22 Scary Birthdays

February 22, 2012

Suatu hari dari taun 1998. Saya terbangun tengah malem, mem-flashback hari itu, yang mana adalah ulang taun saya ke-8. Sekalipun hari ulang taun itu menyenangkan, dan saya dapet kado album pertama Aaron Carter dari kluarga saya (cover albumnya seperti yang terlihat pada Gambar 1), malem itu saya nangis sesenggukan.

Ibu saya, sang empunya kasur yang lagi saya tumpangin, ikutan bangun dan terkaget-kaget liat bocah bungsunya mewek tengah malem. “Kenapa???”

Saya pun, belom spenuhnya ngerti knapa, tapi menjawab,

“Nggg….. rasanya kok ulang taun gitu-gitu aja ya..”

Jawaban yang sangat bocah itu pun ditanggapi dengan soswitnya oleh ibu saya, yang segera menyelenggarakan makan malem keluarga di ahir minggunya. Beliau menduga, saya ngerasa ulang taun saya dirayain kurang spesial. Saya pun sementara itu, menyimpulkan hal yang sama. Walopun entah gimana, saya punya perasaan tangisan saya malam itu lebih dekat pada rasa bingung, sedikit takut, yang bahkan ngga bisa terdefinisikan kenapa.

Gambar 1. Don’t judge me too harsh, rambut belah tengah lagi happening di jaman itu

Tujuh taun kemudian, ulang taun saya yang ke-15. Ini cukup berkesan karna saya inget, mulei taun itulah saya menemukan sisi mengerikan dari ulang taun saya. Walopun seperti biasa, saya bangun pada tanggal 22 Februari dengan hepi, memicingkan mata kesana kemari siapa tau ada surprise, kalo hoki pulang bawa kado-kado, beranjak tidur dengan penuh victory. Tapi malem harinya, menuju pagi, selalu jadi malam yang sangat panjang. Dan esok harinya saya terbangun dengan sangat berat, kadang dengan mata bengkak, dan sangat ingin menghindar dari keramaian.

Sampai sekarang, rutinitas ketakutan pasca ulang tahun itu masih terjadi, hampir setiap taun. Pun tahun lalu, ulang taun saya yang ke 21.

Menurut saya, ulang taun itu mengekspos fakta yang berat ke hadapan saya. Jika saya mengambil jatah usia Muhammad bin Abdullah1 sebagai standar, maka saya sudah mencapai sepertiga jatah usia saya. Jika somehow saya dapat melihat apa yang saya pikirkan di detik-detik menjelang nafas terakhir saya nanti, entah berapa keras tangisan saya untuk menyesali sebagian dari hidup saya, dari yang sepertiga ini dulu, saja.

Atau jika saya mengambil asumsi jatah usia saya seperti Whitney Houston. Maka hidup saya sudah hampir separo, dan saya hanya punya kuasa untuk memperbaiki setengah dari jatah saya ke depannya. Itu pun dengan asumsi jatah usia 40an taun. Padahal validitas asumsi ini baru bakal terkonfirmasi pada detik-detik terakhir nanti yang entah kapan.

“Oh, rupanya asumsi yang valid mengenai jatah usia saya adalah…”

No, wouldn’t even think about that, would i.

Wise men say, apa bedanya ulang taun dengan hari-hari lainnya, dalam hal evaluasi diri? Toh kita kehilangan jatah usia tiap detiknya? Idealnya ya kali ya. Tapi toh kita lagi dan lagi larut dalam euforia rutinitas duniawi. Dan izinkan saya mengeluarkan alasan, bahwa secara manusiawi, biasanya kita baru tertohok ketika sudah saatnya menandai bertambahnya lingkaran usia.

What, gua udah umur 22 lagi?”

Dibandingkan,

What, gua udah umur 22 taun 6578 detik, eh, 6590 detik, eh, skarang 6611 detik…”

Di usia 8 tahun, saya menangisi kebingungan saya akan apa arti dari bertambahnya usia. Untuk apa, kenapa harus ada waktu, kenapa saya harus lahir di dunia yang begitu besar dan luas, apakah hanya rutinitas alam yang tidak ada artinya, dan kebingungan ini tidak berubah ketika saya berusia 15 tahun.

Tahun-tahun belakangan ini, tangisan itu lebih kepada rasa sakit atas apa yang harusnya saya lakukan dan apa yang harusnya tidak saya lakukan. Ketika saya sudah memahami apa yang jadi tujuan hidup saya pun, saya sering kali, atau mungkin lebih sering, memilih menjadi kesia-siaan. Atau yang lebih buruk, menentang.

Saya tidak pernah menyesali keputusan yang keliru. Ketika apa yang saya pahami membawa saya kepada apa yang terbaik bagi saya saat itu, meskipun pada akhirnya terkoreksi, tidak masalah. Yang menyakitkan bagi saya adalah pembenaran-pembenaran yang saya lakukan, untuk menghindar dari apa yang sudah saya tahu, deep down, sebagai kebenaran.

“Yaa, kali-kali gapapa lah ya. Yang laen juga ada yang lebih parah.”

Sekalipun orang lain memandang dengan respek, apa yang ditunjukkan secara kasat mata, namun kita lebih tahu, pada titik mana saja kita mengelak dari berbuat benar, apapun itu, sekecil apapun itu, kita lebih tahu

Is it just me? Atau semua orang juga secara rutin merasa demikian? Bagaimana dengan orang yang kita sayangi? Apakah mereka adalah orang-orang yang mampu menyelamatkan diri, atau jenuh dengan introspeksi pada suatu titik, dan larut dalam keadaan?

I’ve had 22 scary birthdays.

I’m not complaining the feelings of it. I’d rather be scared, then i’ve got control of myself, than living by betraying the fact of what will happen when my life ends.

Karena itulah barangkali, jika merujuk pada original handbook dari Pencipta Kehidupan2, rasa takut dan hati-hati adalah sebuah alat bantu dalam menuntun kehidupan, bagi yang masih mau memikirkannya.

“…Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa3 dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (Q.S. Al Baqarah:197)

Mohon doanya supaya saya tetap dalam kondisi taqwa kepada-Nya hingga akhir hidup saya :)

 Footnotes

1Also known as Rasulullah SAW, the Islamic prophet. Deceased at age 63

2I was referring to Qur’an, which Moslems consider the words of God, revealed to be instruction and guidance for human being

3ت ق ي = Ta-Qaf-Ya = to fear, be cautious, guarded, prepared, preserve, forethoughtful, reverential & pious fear (of God), righteous/virtuous/just/honest.

(taqwa = takut, berhati-hati, waspada. Jika dianalogikan dengan salah satu hadits, yang mana saya lupa persisnya redaksinya gimana, taqwa itu seperti berjalan di jalan setapak, di mana pada jalan itu bertebaran tanaman berduri. Mohon koreksinya jika salah.)

Kelinci Sam dan Kecewanya

November 10, 2011

Di sebuah desa, tinggal seekor kelinci bernama Sam dalam peliharaan Tuannya.

Sang Tuan menyayangi Sam, mudah ditebak dari kebiasaannya yang tepat waktu untuk memberi Sam makan, menyediakan kandang yang sangat nyaman, membersihkannya secara teratur, pengamanan yang baik supaya Sam tidak dicuri orang, dan belum lagi waktu yang banyak dihabiskan Sang Tuan hanya untuk menemani Sam bermain.

Sang Tuan selalu ada untuknya, begitulah sepengetahuan Sam, kendatipun tidak ada cara yang memungkinkan keduanya berkomunikasi verbal, dan Sam menyayangi Tuannya, bahkan bergantung kepadanya.

Suatu ketika, Sang Tuan mengambil Sam dari kandangnya, dan membawanya masuk ke rumah. Berbeda dengan kandangnya yang lama, kali ini Sam dimasukkan ke dalam kardus. Sangat tidak nyaman. Berbeda dengan kandangnya yang luas, Sam tidak dapat melihat lingkungan sekitar. Sam bertanya-tanya, namun tetap makan dengan patuh makanan yang Tuannya berikan ke dalam kandangnya.

Hari berikutnya, Sam menyadari bahwa kardus yang ia tempati memiliki celah kecil. Sam menggerogotinya sedikit sehingga celah itu melebar, sehingga ia dapat mengintip apa yang terjadi di luar. Ia menemukan Tuannya, berbicara dengan seorang Pak Tua. Pak Tua ini sangat familiar bagi Sam. Ia adalah pemilik Sam yang lama, seorang peternak kelinci yang biasa menjual teman-temannya, dan termasuk dirinya.

Sam adalah kelinci yang pintar. Ia tahu, kardus adalah barang yang digunakan manusia ketika mereka menyimpan barang untuk dipindahkan, ia sering melihat Tuannya memasukkan barang bekasnya ke kardus untuk dimasukkan ke gudang. Dan dengan kekecewaan luar biasa, ia menyadari mengapa ia dimasukkan ke dalamnya, yaitu untuk dikembalikan kepada Pak Tua.

Malam itu, Sam masih tidak dikeluarkan dari kardusnya bahkan setelah Pak Tua pulang. Barangkali mereka tadi masih tawar menawar harga, pikir Sam. Kemarahan yang ia pendam sejak siang hari mendorongnya untuk melakukan sesuatu. Dengan usaha keras, Sam menggulingkan kardusnya dan keluar dari rumah melalui jendela. Ia bisa pergi begitu saja dari Tuannya, sebelum Tuannya meninggalkannya lebih dahulu.

Namun Sam dan rasa kecewanya merasa Tuannya perlu diberi pelajaran. Ia memutuskan untuk merusak ladang tomat milik Tuannya. Mencerabuti buah, daun, tangkai dan kadang akarnya jika ia mampu. Pekerjaan yang melelahkan, terutama karena ladang itu sangat besar. Sesekali Sam membenci dirinya sendiri ketika ia merusak satu batang, namun teringat kembali betapa Tuannya telah memberinya harapan palsu bahwa ia akan disayangi selamanya. Sayang sekali, pikirnya, ia cukup pintar untuk membaca apa yang terjadi. Sayang sekali, pikirnya lagi, bahkan mungkin lebih menyenangkan jika ia bodoh saja, tidak mengerti apa-apa hingga saatnya tiba.

Setelah cukup puas, Sam melangkah pergi. Ia sempat melirik Penyu temannya dalam kandangnya, yang juga dipelihara Tuannya selama ini. Alangkah naifnya, Sam pikir, damai dalam ketidaktahuannya. Tak lama lagi si Penyu tentu akan mengalami apa yang Sam alami. Demikian, dengan sakit hati, namun juga kepuasan karena usahanya, Sam meninggalkan ladangnya tercinta.

Bagaimana rasanya, jika ia tahu Tuannya memasukkannya ke dalam rumah karena kunci kandangnya rusak, dan Tuannya takut Sam dicuri orang?

Bagaimana rasanya, jika ia tahu bahwa Tuannya meminta bantuan Pak Tua untuk memperbaiki kunci kandangnya?

Bagaimana rasanya, jika ia tahu usahanya yang melawan nalurinya sendiri itu adalah karena kekecewaan akibat salah paham belaka, merasa lebih tahu dari yang seharusnya, padahal ia tetap tidak mengetahui seluruhnya?

Bagian mana yang salah? Apakah salah ia menjadi kelinci yang pintar dan cukup kritis? Atau haruskah ia berharap seharusnya kardus itu tidak memiliki celah supaya ia tidak menduga-duga, atau waktukah yang salah, karena membuatnya melihat Pak Tua?

Bukan. Jika sang situasi sedemikian rupa mendesaknya untuk salah paham, pilihan adalah tetap di tangannya, untuk pergi dan memutuskan menyakiti Tuannya atau tidak. Bahkan sekalipun Sam memang akan ditinggalkan, merusak ladang Tuannya adalah hal yang salah.

Situasi, dengan segala detil plotnya, telah menguji Sam. Dan Sam gagal dalam ujiannya.

Kini adalah kerugiannya, meninggalkan ladangnya dan Tuannya yang masih sangat menyayanginya.

a right to say no

October 29, 2011

Beranilah berkata tidak, ketika kerugian yang akan anda peroleh anda yakini lebih besar dari manfaatnya

Karena andalah yang mengerti kondisi anda sendiri, bukan orang lain

Dan andalah yang akan menerima konsekuensinya, bukan orang yang meminta

 

Beranilah berkata tidak, dan lakukan dengan cara terbaik anda

Aksi tanpa seleksi justru menjauhkan hasil yang diharapkan dari kondisi idealnya

Jika takut salah perhitungan, maka hitunglah semampu anda

Jika tidak mencoba, maka salahkan diri anda, mengapa enggan membaca?

 

Beranilah berkata tidak, ketika kerugian yang akan anda peroleh anda yakini lebih besar dari manfaatnya

Siapa yang hendak anda  tipu? Waktu anda 24 jam tiap harinya, siapa yang berbeda?

Daripada menjanjikan kepada dua muka, lalu mengecewakan salah satunya

Terutama jika dia adalah yang paling tidak ingin anda kecewakan..

 

good morning, again

October 21, 2011

Jika terhadap munculnya matahari di semesta sudah ada yang berkuasa,

Lalu siapa yang bertanggung jawab atas datangnya pagi dalam diri?

Malam, jika aku senantiasa berputus asa karena kau tetap datang, kaulah yang akan menelan

Tapi tidak akan

Karena pagiku tiba lebih terang setiap kalinya, dan akan tetap selamanya demikian

farewell, tempelan dinding!

September 17, 2011

i made this! i really DID make this! xD huahahaha!

jika anak cucu saya bertanya, pokoknya saya dulu adalah mahasiswi teladan!

xD

sebelum tempelan dinding ini dibongkar. sampe skarang saya pun masih takjub bahwa saya pernah seniat ini, walopun cuma menjelang ujian kelulusan sarjana.

cukup ini saja yang perlu terdokumentasi dari masa kuliah saya. pertanyaan-pertanyaan lainnya yang mungkin muncul dari keturunan saya nanti, tidaklah perlu dijawab:

“dulu si mamah suka cabut stelah absen gak?”

“eh, mamah pernah rekayasa data praktikum nggak?”

“dulu mamah suka nyelipin earphone di balik krudung gak pas kuliah?”


 

sungguh, tidaklah perlu.

 

 bye bye, mading kompre!

agak sedih juga bongkarnya :’)

…………………………………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………………….

Ini bukan posting berita duka, hore! \(^^)/. Tapi kebetulan mumpung lagi di sini nih, tolong dijawab yang jujur ya mbak mas xD

Berdasarkan hasil polling di atas, diperoleh data statistik yang scientific sebagai berikut.

Rupanya 100% orang yang melihat postingan ini mengira ada berita duka! I KNOW, MENAKJUBKAN BUKAN. Statement apa sbenernya ini? Sebenernya kalo ditilik-tilik, kalimat “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un” merupakan sebuah statement informasi:

“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.”

Informasi! Seperti halnya kalimat-kalimat di bawah ini.

“Sesungguhnya kalor yang berpindah berbanding lurus dengan luas permukaan transfer dan delta temperatur.”

“Sesungguhnya Selena Gomez baru bikin tato hati bertuliskan ‘Justin’.”

“Sesungguhnya es pisang ijo di kantin kampus gue enaknya surgawi.”

Dan seterusnya. Informasi.

Informasi apa?

Bahwa setelah hiruk pikuk kita mengkhawatirkan TA, cari kerja, mikirin kapan kawin, siapa jodohnya, kapan punya kendaraan sendiri, cari beasiswa, keliling dunia, kapan punya anak pertama, kedua, kapan naik gaji, kapan si kecil masuk sd, smp, kuliah, kapan si kecil beres TA, cari kerja, kapan dia kawin, siapa jodohnya, dst dst hingga tujuh turunan,

, masih koma sodara-sodara,

, setelah itu semua… oh masih ada lagi? Yaa, sampai turunan ke delapan dan seterusnya,

, jengjengjeng… setelah itu semua, kita akan kembali ke Yang Menciptakan, sodara-sodara!

Kenapa dijadiin kalimat umum kalo dapet musibah?

Tentunya banyak yang familiar sama Chapter Al Baqarah brikut ini:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Q.S. 2:155-156)

Ting tong! Ini adalah sebuah perintah untuk mengingat kembalinya kita kepada Sang Pencipta.

Di saat susah aja?

Hmm, apa iya bisa? Bukankah lebih sulit berpikir logis atau mengontrol diri dalam keadaan susah?

Seperti logika yang pernah disampaikan kawan saya, kira-kira:

“Nyebutin ‘Laa ilaaha ilallah’ pas sakaratul maut itu ngga segampang yang di sinetron chie. “Uhuk… uhuk… laa… ilaa… ha ilallah…. OHOK!” *biiiiiiiiiiiiiiiiiiiip*, sementara sebelumnya dia adalah seorang tukang bunuh orang. Sakaratul maut itu, aslinya, bakal mikirin macem-macem. Mabuk. Mikirin kerjaan, keluarga, bisnis, dsb dsb. Lebih sulit pastinya buat seseorang nginget Tuhannya jika selama hidup dia enggak.”

(disampaikan dengan redaksi yang lebih tidak brutal tentunya, mengingat orangnya super lebih santun dibandingkan saya)

Oalah, jelas sudah, pikir saya. Yang mampu pasrah, dan menyambut kematian dengan tenangnya kalimat ketundukpatuhan adalah orang yang selama hidupnya pun mempraktekannya. Bukan sekedar mengandalkan lisan pada saat deadline.

Pun, demikian saya pikir, di ayat di atas Allah menyebutkan orang yang sabar adalah mereka yang tidak bersusah hati dalam segala kesulitannya, karna toh saat senangnya pun ia sudah taat secara total kepada Tuhannya, menyadari bahwa tidak ada tempat kembali selain dia.

Wow, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un adalah sebuah landasan prinsip hidup rupanya. Bukan sekedar sandi, yang harus refleks terucap ketika ada yang bilang “si anu meninggal”. Atau kalimat indikator kepedulian terhadap berita duka.

Informasi bahwa semuanya akan kembali kepada-Nya, adalah sebuah berita gembira, bahwa orang-orang yang berusaha mencapai kebaikan, ternyata bukan sia-sia.

Ketika Doni yang selama ini sangat menikmati obrolan bersama sahabat-sahabatnya dengan ditemani alkohol, memutuskan untuk merutinkan shalat yang bahkan ia sendiri lupa bacaannya. Ia malu untuk menolak tawaran seteguk botol yang disodorkan, malu terlihat pergi sejenak untuk solat ashar, malu untuk secara rutin memakai celana yang melebihi lutut..

Ia perlu tahu, terlepas dari cemoohan teman-temannya, hanya kepada Rabb-nya ia akan kembali. (In other words, bergembiralah Doni! >.<)

Ketika Tyas, menggunakan jilbab yang sesuai standar Yang Me-Request, plus kaos kaki dan antek-anteknya. Ketika “ih gua suka banget style lo hari ini” berubah jadi “wih lebar amat kerudungnya jeng. Anak pesantren?” Ketika ia menahan berbagai keinginan, untuk kembali ke kehidupan remaja yang bebas, untuk menjadi seperti teman-temannya saja…

Ia perlu tahu, bahwa saat ini dia justru lebih mengerti, hanya kepada Rabb-nya ia akan kembali. (In other words, bergembiralah Tyas! >.<)

Ketika siapapun anda, mengubah barangkali sedikit demi sedikit saja kebiasaan anda karena anda tahu kebenaran yang distandarkan oleh-Nya, terlepas dari terbiasanya standar ini diabaikan…

Anda perlu tahu, bahwa anda melepaskan sedikit demi sedikit penyesalan yang mungkin terjadi, ketika kepada Rabb anda kembali.  Bergembiralah anda! \(^^)/

Atau.. biarkan saja dunia tidak tahu bahwa ada yang menunggu pertanggungjawaban mereka?

Bukankah informasi adanya surga dan neraka justru merupakan dorongan untuk membentuk masyarakat yang lebih tertata, karena buktinya manusia tidak cukup taat hanya jika berlandaskan etika, atau slogan “Saya bangga taat aturan”?

Hey look… Bukankah innalillahi wa inna ilaihi raji’un adalah berita gembira? :D

“Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali.”

(Q.S.7:174)

Ow, ternyata cara kembalinya adalah dengan memahami ayat. (Hya eyalaah chie, pesen2-Nya disimpen di sono smua. What do you ask for? Face-to-face-command?)

Kembali yok, dengan penuh kesadaran, daripada kembalinya diseret-seret karna waktunya udah abis. Meeeh horooor. :’’’’O

mas_mas_bijak_gitu_deh: nah
mas_mas_bijak_gitu_deh: dan satu sisi lg
mas_mas_bijak_gitu_deh: dr yg nerima nasehatnya
mas_mas_bijak_gitu_deh: tetep diutamakan objektifitas berpikir
astri nur istyami: hehe iya
astri nur istyami: baiklah
mas_mas_bijak_gitu_deh: krn tiap org jelas beda, ada yg kasar ada yg ngga, tergantung 
lingkungan dlunya, dan itu yaaa susah bwt disalahin
mas_mas_bijak_gitu_deh: haha
mas_mas_bijak_gitu_deh: *ini bukan brarti sy ngebela diri loh
mas_mas_bijak_gitu_deh: soalnya klo sy ngeliat, kynya banyak bgt cewe yg emosi ama 
logikanya ga seimbang..
mas_mas_bijak_gitu_deh: jdnya pas diingetin (yg sebetulnya udh lumayan halus juga) 
jadinya lebay berlebihan nyikapin cara nyampeinnya
mas_mas_bijak_gitu_deh: hahaha
mas_mas_bijak_gitu_deh: dan isi nasehatnya malah ga ditangkep
 
meeeeeeeeeeeeeh >.<
ampe keliatan kaum adam nih. mari introspeksi, guuuurrlzz.

precious

February 20, 2011

this is about these moments you cherish,

chances that you wish came more often

everyday, with no distraction

 

or when you hope those bells are the only thing in your life

or shared words

or tears

or laughters

or anger

or misunderstanding

or faith

 

 

in the rush of everyday’s ticking time

you pause,  for some microsecond you look up at the sky, or staring at the earth

you find that you’ve got something precious in your life.

hujan dan mahasiswi galau

November 30, 2010

GKU barat, setelah kuliah PPK. saya dan uwi (yang datang hanya untuk absen) (itupun datengnya karna pa tatang bilang kuliah terakhir xD) (jangan dicontoh ya adek2) bermaksud kembali ke habitat kami trcinta slama 3,5 taun ini, labtek biru.

saya: “…ujan. mau muter lewat jalan yang ada atapnya ngga?”

uwi: “males ah. deket ini. lari aja yuk?”

saya: “yuk deh.”

uwi: “lagian kan kalo lari pas ujan, kalo nangis ga keliatan. eaaaaaa.” *berlari menuju labtek*

saya: “………………………….”

Dwinta Widyastuti, mahasiswi tingkat empat yang galau. Hobinya adalah nangis sambil lari di tengah hujan.

introducing Herdadi Supriyo Parbowo, preman Jawa cerdas medhok berjenggot yang sering berkomentar melankolis tentang bulan (misalnya: di tengah malam yang ramai, ia memandang sedih ke atas dan berkata “rembhulan dhi Bandhung, tidhak sebhulat rembhulan dhi Solo..” sambil menghembus asap rokok fiktif.. tapi, well, postingan kali ini bukan tentang Herdadi dan bulan, tepatnya)

magrib tadi, saya mengecek hape yang di-silent selama 2 setengah jam karna ada pertemuan dengan dosen pembimbing KP. menemukan bahwa bung ini sempat me-miskol saya.

*percakapan ini terjadi melalui sms*

saya: Her, knapa? Maaf baru slesei pembicaraan ama pa handi. Ada apakah?

herdadi: Saya tgu d kandang domba skrg. Ad masalah ptg yg harus qt selesaikan. Jgn bw polisi ato gegana ato densus88 antiteror.

saya: Maaf bung, saya sedang sibuk lari pontang panting karna ibu2 yang saya jambret trnyata atlet lempar lembing. Akan sy coba lari ke arah kandang domba. -___-

herdadi: Tlg jangan main2. Ini masalah yg sgt ptg. sy tgu d kandang domba brsama domba2 idul adha.

saya: Itu jg tidak bisa. Saya kbtulan tak tahan diri untuk tidak bermain dgn domba2 di hari trakhir mreka.

memutuskan untuk berharap kahim saya ini bisa diajak ngobrol dengan waras, saya pun mencoba bertanya dengan lebih serius.

saya: Eh sungguh her, tadi knp? Dimas jg miskol di waktu yg sama, pentingkah?

herdadi: Enggak, td tu mau minjem mobil sbnernya soalnya bahunya Jo lepas.

*end of conversation*

:|

bagian sms sampah, panjang dan flow tinggi. bagian inti pesennya yang penting, pendek2 santai.

pemuda aneh..

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.