a right to say no

October 29, 2011

Beranilah berkata tidak, ketika kerugian yang akan anda peroleh anda yakini lebih besar dari manfaatnya

Karena andalah yang mengerti kondisi anda sendiri, bukan orang lain

Dan andalah yang akan menerima konsekuensinya, bukan orang yang meminta

 

Beranilah berkata tidak, dan lakukan dengan cara terbaik anda

Aksi tanpa seleksi justru menjauhkan hasil yang diharapkan dari kondisi idealnya

Jika takut salah perhitungan, maka hitunglah semampu anda

Jika tidak mencoba, maka salahkan diri anda, mengapa enggan membaca?

 

Beranilah berkata tidak, ketika kerugian yang akan anda peroleh anda yakini lebih besar dari manfaatnya

Siapa yang hendak anda  tipu? Waktu anda 24 jam tiap harinya, siapa yang berbeda?

Daripada menjanjikan kepada dua muka, lalu mengecewakan salah satunya

Terutama jika dia adalah yang paling tidak ingin anda kecewakan..

 

good morning, again

October 21, 2011

Jika terhadap munculnya matahari di semesta sudah ada yang berkuasa,

Lalu siapa yang bertanggung jawab atas datangnya pagi dalam diri?

Malam, jika aku senantiasa berputus asa karena kau tetap datang, kaulah yang akan menelan

Tapi tidak akan

Karena pagiku tiba lebih terang setiap kalinya, dan akan tetap selamanya demikian

farewell, tempelan dinding!

September 17, 2011

i made this! i really DID make this! xD huahahaha!

jika anak cucu saya bertanya, pokoknya saya dulu adalah mahasiswi teladan!

xD

sebelum tempelan dinding ini dibongkar. sampe skarang saya pun masih takjub bahwa saya pernah seniat ini, walopun cuma menjelang ujian kelulusan sarjana.

cukup ini saja yang perlu terdokumentasi dari masa kuliah saya. pertanyaan-pertanyaan lainnya yang mungkin muncul dari keturunan saya nanti, tidaklah perlu dijawab:

“dulu si mamah suka cabut stelah absen gak?”

“eh, mamah pernah rekayasa data praktikum nggak?”

“dulu mamah suka nyelipin earphone di balik krudung gak pas kuliah?”


 

sungguh, tidaklah perlu.

 

 bye bye, mading kompre!

agak sedih juga bongkarnya :’)

…………………………………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………………….

Ini bukan posting berita duka, hore! \(^^)/. Tapi kebetulan mumpung lagi di sini nih, tolong dijawab yang jujur ya mbak mas xD

Berdasarkan hasil polling di atas, diperoleh data statistik yang scientific sebagai berikut.

Rupanya 100% orang yang melihat postingan ini mengira ada berita duka! I KNOW, MENAKJUBKAN BUKAN. Statement apa sbenernya ini? Sebenernya kalo ditilik-tilik, kalimat “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un” merupakan sebuah statement informasi:

“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.”

Informasi! Seperti halnya kalimat-kalimat di bawah ini.

“Sesungguhnya kalor yang berpindah berbanding lurus dengan luas permukaan transfer dan delta temperatur.”

“Sesungguhnya Selena Gomez baru bikin tato hati bertuliskan ‘Justin’.”

“Sesungguhnya es pisang ijo di kantin kampus gue enaknya surgawi.”

Dan seterusnya. Informasi.

Informasi apa?

Bahwa setelah hiruk pikuk kita mengkhawatirkan TA, cari kerja, mikirin kapan kawin, siapa jodohnya, kapan punya kendaraan sendiri, cari beasiswa, keliling dunia, kapan punya anak pertama, kedua, kapan naik gaji, kapan si kecil masuk sd, smp, kuliah, kapan si kecil beres TA, cari kerja, kapan dia kawin, siapa jodohnya, dst dst hingga tujuh turunan,

, masih koma sodara-sodara,

, setelah itu semua… oh masih ada lagi? Yaa, sampai turunan ke delapan dan seterusnya,

, jengjengjeng… setelah itu semua, kita akan kembali ke Yang Menciptakan, sodara-sodara!

Kenapa dijadiin kalimat umum kalo dapet musibah?

Tentunya banyak yang familiar sama Chapter Al Baqarah brikut ini:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Q.S. 2:155-156)

Ting tong! Ini adalah sebuah perintah untuk mengingat kembalinya kita kepada Sang Pencipta.

Di saat susah aja?

Hmm, apa iya bisa? Bukankah lebih sulit berpikir logis atau mengontrol diri dalam keadaan susah?

Seperti logika yang pernah disampaikan kawan saya, kira-kira:

“Nyebutin ‘Laa ilaaha ilallah’ pas sakaratul maut itu ngga segampang yang di sinetron chie. “Uhuk… uhuk… laa… ilaa… ha ilallah…. OHOK!” *biiiiiiiiiiiiiiiiiiiip*, sementara sebelumnya dia adalah seorang tukang bunuh orang. Sakaratul maut itu, aslinya, bakal mikirin macem-macem. Mabuk. Mikirin kerjaan, keluarga, bisnis, dsb dsb. Lebih sulit pastinya buat seseorang nginget Tuhannya jika selama hidup dia enggak.”

(disampaikan dengan redaksi yang lebih tidak brutal tentunya, mengingat orangnya super lebih santun dibandingkan saya)

Oalah, jelas sudah, pikir saya. Yang mampu pasrah, dan menyambut kematian dengan tenangnya kalimat ketundukpatuhan adalah orang yang selama hidupnya pun mempraktekannya. Bukan sekedar mengandalkan lisan pada saat deadline.

Pun, demikian saya pikir, di ayat di atas Allah menyebutkan orang yang sabar adalah mereka yang tidak bersusah hati dalam segala kesulitannya, karna toh saat senangnya pun ia sudah taat secara total kepada Tuhannya, menyadari bahwa tidak ada tempat kembali selain dia.

Wow, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un adalah sebuah landasan prinsip hidup rupanya. Bukan sekedar sandi, yang harus refleks terucap ketika ada yang bilang “si anu meninggal”. Atau kalimat indikator kepedulian terhadap berita duka.

Informasi bahwa semuanya akan kembali kepada-Nya, adalah sebuah berita gembira, bahwa orang-orang yang berusaha mencapai kebaikan, ternyata bukan sia-sia.

Ketika Doni yang selama ini sangat menikmati obrolan bersama sahabat-sahabatnya dengan ditemani alkohol, memutuskan untuk merutinkan shalat yang bahkan ia sendiri lupa bacaannya. Ia malu untuk menolak tawaran seteguk botol yang disodorkan, malu terlihat pergi sejenak untuk solat ashar, malu untuk secara rutin memakai celana yang melebihi lutut..

Ia perlu tahu, terlepas dari cemoohan teman-temannya, hanya kepada Rabb-nya ia akan kembali. (In other words, bergembiralah Doni! >.<)

Ketika Tyas, menggunakan jilbab yang sesuai standar Yang Me-Request, plus kaos kaki dan antek-anteknya. Ketika “ih gua suka banget style lo hari ini” berubah jadi “wih lebar amat kerudungnya jeng. Anak pesantren?” Ketika ia menahan berbagai keinginan, untuk kembali ke kehidupan remaja yang bebas, untuk menjadi seperti teman-temannya saja…

Ia perlu tahu, bahwa saat ini dia justru lebih mengerti, hanya kepada Rabb-nya ia akan kembali. (In other words, bergembiralah Tyas! >.<)

Ketika siapapun anda, mengubah barangkali sedikit demi sedikit saja kebiasaan anda karena anda tahu kebenaran yang distandarkan oleh-Nya, terlepas dari terbiasanya standar ini diabaikan…

Anda perlu tahu, bahwa anda melepaskan sedikit demi sedikit penyesalan yang mungkin terjadi, ketika kepada Rabb anda kembali.  Bergembiralah anda! \(^^)/

Atau.. biarkan saja dunia tidak tahu bahwa ada yang menunggu pertanggungjawaban mereka?

Bukankah informasi adanya surga dan neraka justru merupakan dorongan untuk membentuk masyarakat yang lebih tertata, karena buktinya manusia tidak cukup taat hanya jika berlandaskan etika, atau slogan “Saya bangga taat aturan”?

Hey look… Bukankah innalillahi wa inna ilaihi raji’un adalah berita gembira? :D

“Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali.”

(Q.S.7:174)

Ow, ternyata cara kembalinya adalah dengan memahami ayat. (Hya eyalaah chie, pesen2-Nya disimpen di sono smua. What do you ask for? Face-to-face-command?)

Kembali yok, dengan penuh kesadaran, daripada kembalinya diseret-seret karna waktunya udah abis. Meeeh horooor. :’’’’O

mas_mas_bijak_gitu_deh: nah
mas_mas_bijak_gitu_deh: dan satu sisi lg
mas_mas_bijak_gitu_deh: dr yg nerima nasehatnya
mas_mas_bijak_gitu_deh: tetep diutamakan objektifitas berpikir
astri nur istyami: hehe iya
astri nur istyami: baiklah
mas_mas_bijak_gitu_deh: krn tiap org jelas beda, ada yg kasar ada yg ngga, tergantung 
lingkungan dlunya, dan itu yaaa susah bwt disalahin
mas_mas_bijak_gitu_deh: haha
mas_mas_bijak_gitu_deh: *ini bukan brarti sy ngebela diri loh
mas_mas_bijak_gitu_deh: soalnya klo sy ngeliat, kynya banyak bgt cewe yg emosi ama 
logikanya ga seimbang..
mas_mas_bijak_gitu_deh: jdnya pas diingetin (yg sebetulnya udh lumayan halus juga) 
jadinya lebay berlebihan nyikapin cara nyampeinnya
mas_mas_bijak_gitu_deh: hahaha
mas_mas_bijak_gitu_deh: dan isi nasehatnya malah ga ditangkep
 
meeeeeeeeeeeeeh >.<
ampe keliatan kaum adam nih. mari introspeksi, guuuurrlzz.

precious

February 20, 2011

this is about these moments you cherish,

chances that you wish came more often

everyday, with no distraction

 

or when you hope those bells are the only thing in your life

or shared words

or tears

or laughters

or anger

or misunderstanding

or faith

 

 

in the rush of everyday’s ticking time

you pause,  for some microsecond you look up at the sky, or staring at the earth

you find that you’ve got something precious in your life.

hujan dan mahasiswi galau

November 30, 2010

GKU barat, setelah kuliah PPK. saya dan uwi (yang datang hanya untuk absen) (itupun datengnya karna pa tatang bilang kuliah terakhir xD) (jangan dicontoh ya adek2) bermaksud kembali ke habitat kami trcinta slama 3,5 taun ini, labtek biru.

saya: “…ujan. mau muter lewat jalan yang ada atapnya ngga?”

uwi: “males ah. deket ini. lari aja yuk?”

saya: “yuk deh.”

uwi: “lagian kan kalo lari pas ujan, kalo nangis ga keliatan. eaaaaaa.” *berlari menuju labtek*

saya: “………………………….”

Dwinta Widyastuti, mahasiswi tingkat empat yang galau. Hobinya adalah nangis sambil lari di tengah hujan.

introducing Herdadi Supriyo Parbowo, preman Jawa cerdas medhok berjenggot yang sering berkomentar melankolis tentang bulan (misalnya: di tengah malam yang ramai, ia memandang sedih ke atas dan berkata “rembhulan dhi Bandhung, tidhak sebhulat rembhulan dhi Solo..” sambil menghembus asap rokok fiktif.. tapi, well, postingan kali ini bukan tentang Herdadi dan bulan, tepatnya)

magrib tadi, saya mengecek hape yang di-silent selama 2 setengah jam karna ada pertemuan dengan dosen pembimbing KP. menemukan bahwa bung ini sempat me-miskol saya.

*percakapan ini terjadi melalui sms*

saya: Her, knapa? Maaf baru slesei pembicaraan ama pa handi. Ada apakah?

herdadi: Saya tgu d kandang domba skrg. Ad masalah ptg yg harus qt selesaikan. Jgn bw polisi ato gegana ato densus88 antiteror.

saya: Maaf bung, saya sedang sibuk lari pontang panting karna ibu2 yang saya jambret trnyata atlet lempar lembing. Akan sy coba lari ke arah kandang domba. -___-

herdadi: Tlg jangan main2. Ini masalah yg sgt ptg. sy tgu d kandang domba brsama domba2 idul adha.

saya: Itu jg tidak bisa. Saya kbtulan tak tahan diri untuk tidak bermain dgn domba2 di hari trakhir mreka.

memutuskan untuk berharap kahim saya ini bisa diajak ngobrol dengan waras, saya pun mencoba bertanya dengan lebih serius.

saya: Eh sungguh her, tadi knp? Dimas jg miskol di waktu yg sama, pentingkah?

herdadi: Enggak, td tu mau minjem mobil sbnernya soalnya bahunya Jo lepas.

*end of conversation*

:|

bagian sms sampah, panjang dan flow tinggi. bagian inti pesennya yang penting, pendek2 santai.

pemuda aneh..

suatu siang, di tengah janji untuk bertemu dengan dosen koordinator KP. saya udah dateng duluan ke ruangannya, tapi menunggu partner KP saya yang kemayu, Ariga Wibisana, saya pergi lagi untuk mengintip lab penelitian saya dulu yang ga jauh dari situ.

*drrt drrt* (sms masuk)

aga: “Chiew, lo dimana?? Gue udah di lab Pa Irwan! I came along the way from PAU and you’re not even here yet??”

saya: (bermaksud mengetik “Oke, tunggu bntar” tapi salah pencet tombol ‘Send’ sbelum ngetik apa-apa)

*drrt drrt* (sms masuk)

aga: “Kosong?? SMS Kosong?? Are you trying to pretend to be a ninja, by sending me empty message????”

bzzzzt. repot bener dah urusannya kalo salah sms ke cong satu ini..

:)

October 18, 2010

And when my smile gets old and faded, wait around I’ll smile again. Shouldn’t be so complicated.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.