Udara sangat lembab basah pada dinding-dindingnya

duh, bagai gua yang sunyi di tengah hutan

Ke mana gerangan perginya? Wahai, hatiku sendiri

merasa asing di rumah sendiri

Tiang-tiang yang rapuh sawang di sudut kelabu

duh, bagai lelaki tua yang lesu

Tasbih kehilangan talinya!

Kesibukan apa gerangan yang memadati waktunya?

Wahai, dalam sukmaku sendiri ibu bercerita

bahwa jemaah belakangan ini sibuk berbelanja

dan repot menjahitkan baju-bajunya

Tabuh yang berlubang rayap-rayap menggigitinya

duh, bagai tubuh perajurit dengan berjuta luka

Di mana pemukulnya? Wahai, anak-anak yang manis itu

berkejar-kejaran memperebutkan kayu itu

Ya, Allah, ampunilah mereka

Kalau wajahnya kotor sebab tangan ibu-bapaknyalah yang kotor

Tikar yang rusak dan koyak-koyak parah

duh, bagai hidupku dan diriku sendiri yang berlumur dosa

Darimana aku? Allah, semalam ini aku mencari rumah

tetapi pintu-pintu di seluruh Mataram telah rapat tertutup

sedangkan angin kemarau menyusahkan nafasku

Maka izinkanlah tubuh yang lusuh ini

terjatuh di sini dan bersimpuh di hadapanMu

Cuaca yang ungu

Langit-langit yang hampir luluh

Duh, bagai kota yang telah lama ditinggalkan

akibat suatu peperangan

Ke mana mereka? Sekali lagi ibuku menegur:

Fien, mereka sedang tidur

Akupun bertanya: Adakah selamanya mereka tidur?

Ibu pun pergi mengabur sementara

kudengar gemerisik Jubah-Mu….

Arifin C. Noer

Taken from http://30mosques.com/archive2010/2010/09/day-28-kentucky-mind-the-space/

Saya rasa puisi ini yang paling berperan bikin saya rada suka puisi. Delapan taun yang lalu saya pake buat ujian praktek bahasa indonesia pas SMP (bukan brarti ngerti artinya juga sih :p), dan teks yang saya pegang waktu itu masih disimpen sampe skarang.

Penulisnya, Arifin C. Noer, adalah seorang yang berkecimpung di dunia seni, yang juga seringkali menulis skenario, teater maupun film. Pemberontakan G-30 S/PKI adalah salah satu film yang disutradarainya. Beliau wafat pada tahun 1995 pada usia 54 tahun. Menurut berbagai sumber, Langgar Purwodiningratan adalah puisi pertama yang ditulisnya, ketika ia masih di jenjang SMP. Puisi ini bercerita tentang mesjid di mana ia sering bertafakur.

Kudirikan istana pasir mungil, mereka megahkan istana kerajaan mereka
Di duniaku tawa segalanya, sementara mereka berebut jadi raja
Kubilang, “Kenapa tidak jadikan surga ini milik seluruh negeri
sehingga semua manusia rasakan pelangi biasan singgasana ini?”
Katanya, “Bocah, tahu apa kamu tentang dunia.”

Mereka bilang, “Berjalanlah demi dirimu, dan hanya anak cucumu.”
Kubilang, “Tidak bisakah demi umat manusia saja?”
Mereka gelengkan kepala, “Kamu mengerti jika dewasa nanti.”
Apa yang harus aku mengerti?
Emosi-emosi baru, sehingga ku pahami kenapa om mabuk dan tante depresi?
Berharganya uang, kekuasaan, dan kekaguman orang lain sehingga kuperas keringat dan darahku?

Aku tak mau
Tak usah, sudah aku begini saja

Jika kalian ajari aku untuk cintai harta, cinta hingga gelap mata karena gemerlap kota
Jika kalian tuntut aku benci saudara, saudara yang hari ini bersamaku tertawa
Jika kalian bentuk atmosfer kompetisi hingga esensi hidup ini hanya duniawi, duniawi lagi

Jika kalian ajari aku logika bahwa hidup adalah rimba,
untuk mencapai puncak dunia apapun caranya,
Sudah, aku tak mau dewasa

Beningnya biru langit di mataku hari ini
Aku tak mau lupa

Biarkan kami yang perkasa yang menguasai semesta
Kami yang masih percaya, Tuhan ciptakan zaman tidak semena-mena
Bahwa pahlawan itu ada, dan mereka yang berjuang demi sesamalah yang bahagia pada akhirnya
Bahwa semua ketidakadilan di dunia dapat hilang tak bersisa
Jika hari ini belum seindah itu, maka ajari aku untuk bermimpi
Bukan “dunia memang begini.

Siapa aku nanti, dan bagaimana kulanjutkan hari ini
Cara hidup kalianlah yang membentuk kami

Kami,
yang masih bermain bersama mentari

gambar dikopi semena2 dari http://smpn29samarinda.files.wordpress.com/2009/02/children-holding-hands-sm.jpg

ditulis dalam rangka meramaikan lomba notes fesbuk di himpunan sayah. :p

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.