Langgar Purwodiningratan
March 2, 2012
Udara sangat lembab basah pada dinding-dindingnya
duh, bagai gua yang sunyi di tengah hutan
Ke mana gerangan perginya? Wahai, hatiku sendiri
merasa asing di rumah sendiri
Tiang-tiang yang rapuh sawang di sudut kelabu
duh, bagai lelaki tua yang lesu
Tasbih kehilangan talinya!
Kesibukan apa gerangan yang memadati waktunya?
Wahai, dalam sukmaku sendiri ibu bercerita
bahwa jemaah belakangan ini sibuk berbelanja
dan repot menjahitkan baju-bajunya
Tabuh yang berlubang rayap-rayap menggigitinya
duh, bagai tubuh perajurit dengan berjuta luka
Di mana pemukulnya? Wahai, anak-anak yang manis itu
berkejar-kejaran memperebutkan kayu itu
Ya, Allah, ampunilah mereka
Kalau wajahnya kotor sebab tangan ibu-bapaknyalah yang kotor
Tikar yang rusak dan koyak-koyak parah
duh, bagai hidupku dan diriku sendiri yang berlumur dosa
Darimana aku? Allah, semalam ini aku mencari rumah
tetapi pintu-pintu di seluruh Mataram telah rapat tertutup
sedangkan angin kemarau menyusahkan nafasku
Maka izinkanlah tubuh yang lusuh ini
terjatuh di sini dan bersimpuh di hadapanMu
Cuaca yang ungu
Langit-langit yang hampir luluh
Duh, bagai kota yang telah lama ditinggalkan
akibat suatu peperangan
Ke mana mereka? Sekali lagi ibuku menegur:
Fien, mereka sedang tidur
Akupun bertanya: Adakah selamanya mereka tidur?
Ibu pun pergi mengabur sementara
kudengar gemerisik Jubah-Mu….
Arifin C. Noer
Saya rasa puisi ini yang paling berperan bikin saya rada suka puisi. Delapan taun yang lalu saya pake buat ujian praktek bahasa indonesia pas SMP (bukan brarti ngerti artinya juga sih :p), dan teks yang saya pegang waktu itu masih disimpen sampe skarang.
Penulisnya, Arifin C. Noer, adalah seorang yang berkecimpung di dunia seni, yang juga seringkali menulis skenario, teater maupun film. Pemberontakan G-30 S/PKI adalah salah satu film yang disutradarainya. Beliau wafat pada tahun 1995 pada usia 54 tahun. Menurut berbagai sumber, Langgar Purwodiningratan adalah puisi pertama yang ditulisnya, ketika ia masih di jenjang SMP. Puisi ini bercerita tentang mesjid di mana ia sering bertafakur.
Sudah, Aku Tak Mau Dewasa
May 11, 2010
Kudirikan istana pasir mungil, mereka megahkan istana kerajaan mereka
Di duniaku tawa segalanya, sementara mereka berebut jadi raja
Kubilang, “Kenapa tidak jadikan surga ini milik seluruh negeri
sehingga semua manusia rasakan pelangi biasan singgasana ini?”
Katanya, “Bocah, tahu apa kamu tentang dunia.”
Mereka bilang, “Berjalanlah demi dirimu, dan hanya anak cucumu.”
Kubilang, “Tidak bisakah demi umat manusia saja?”
Mereka gelengkan kepala, “Kamu mengerti jika dewasa nanti.”
Apa yang harus aku mengerti?
Emosi-emosi baru, sehingga ku pahami kenapa om mabuk dan tante depresi?
Berharganya uang, kekuasaan, dan kekaguman orang lain sehingga kuperas keringat dan darahku?
Aku tak mau
Tak usah, sudah aku begini saja
Jika kalian ajari aku untuk cintai harta, cinta hingga gelap mata karena gemerlap kota
Jika kalian tuntut aku benci saudara, saudara yang hari ini bersamaku tertawa
Jika kalian bentuk atmosfer kompetisi hingga esensi hidup ini hanya duniawi, duniawi lagi
Jika kalian ajari aku logika bahwa hidup adalah rimba,
untuk mencapai puncak dunia apapun caranya,
Sudah, aku tak mau dewasa
Beningnya biru langit di mataku hari ini
Aku tak mau lupa
Biarkan kami yang perkasa yang menguasai semesta
Kami yang masih percaya, Tuhan ciptakan zaman tidak semena-mena
Bahwa pahlawan itu ada, dan mereka yang berjuang demi sesamalah yang bahagia pada akhirnya
Bahwa semua ketidakadilan di dunia dapat hilang tak bersisa
Jika hari ini belum seindah itu, maka ajari aku untuk bermimpi
Bukan “dunia memang begini.”
Siapa aku nanti, dan bagaimana kulanjutkan hari ini
Cara hidup kalianlah yang membentuk kami
Kami,
yang masih bermain bersama mentari

gambar dikopi semena2 dari http://smpn29samarinda.files.wordpress.com/2009/02/children-holding-hands-sm.jpg
ditulis dalam rangka meramaikan lomba notes fesbuk di himpunan sayah. :p

