universal

June 3, 2014

suami: “kita harus siapin nama yang bisa dipake buat cowo maupun cewe.”

saya: “he eh.”

suami: “Ahmad Siti.”

saya: “……….”

Advertisements

kiblat

April 10, 2014

 

kiblat

Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan tanda semacam ini di dinding mushola salah satu tempat ngopi di Dago, Bandung.

Setelah wudhu, saya memasuki mushola. Menemukan suami tergeletak berbaring di lantai. Serong kanan.

 

Saya pun takjub setulus hati,

“Akang ngapain??”

 

Ia pun membela diri,

“Kan panah kiblatnya nunjuk ke atas!”

 

Okay. Girls, it’s hard to beat men’s logic. -___-

 

Saya percaya sifat baik itu bukan dihasilkan dari sulap. Mereka mengusahakannya. Entah baru saja, atau barangkali di masa mudanya. Selagi kita menjadi anak sekolahan yang manja, mereka berkutat melawan egonya. Bahkan tanpa sadar, misalnya melalui didikan orang tuanya.

Saya percaya bahwa kesempurnaan bukan tujuan. Tapi kerelaan diri mengakui kesalahan dan langkah konkrit memperbaikinya, akan membawa diri mendekati sempurna. Dari arah manapun ia, sejauh apapun mulanya ia.

Karena itu, saya percaya bahwa idealis dan realistis bukan karakter yang berbeda.

Dan karena itu saya percaya, kemauan untuk menyadari dan memperbaiki jauh lebih berharga dibandingkan sifat baik itu sendiri.

Tiga hari yang dimiliki oleh seorang yang evaluatif, jauh lebih berarti dibandingkan tiga tahun yang dimiliki oleh seorang dalam penyangkalan (denial). Sejauh apapun mulanya perbedaan akhlak mereka.

Kesempurnaan bukan terletak pada sifat, namun pada kecerdasan evaluasi yang dilakukan manusia, sesuai parameter kebenaran masing-masing dirinya.

Meskipun, ya, ada konsekuensi logis antara keduanya.

 

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS Fushshilat: 35)

seorang teman biasa, sebelum akhirnya menjadi teman hidup :p

Rasanya baru kemaren-kemaren saya memprogramkan ikutan nulis #1Hari1Ayat. Rupanya kandas di hari keempat.
Buahahahaha.

Nah, alkisah, hari keempat itu teh saya akad nikah. Jadi yah, jadi weh,
Lupa.

TAPI. Bukan berarti dengan gagal memprogramkan sesuatu, kita jadi putus asa untuk mencoba lagi, toh? Toh sharing ayat bisa tetep diprogramkan pribadi, ga harus nunggu orang lain ngasih lomba bulanan. Toh? Toh? Dan dengan banyaknya bab-bab pelajaran yang saya alami, saya yakin ga lama lagi blog saya bakal cerewet lagi.

Eniwei, sebulan ini, saya banyak menerima pertanyaan “Gimana rasanya nikah Chie?”
Tidak jarang juga terdengar pernyataan, “Gilak gue udah penat banget ngurusin ini, pengen nikah aja kayak elo.”

Saya mau ndak mau berpikir, “Oalah, betapa kita ter-mind set bahwa nikah adalah fase yang mengubah banyak hal dalam hidup kita.”

Kita para wanita, sejak kecil terdidik oleh animasi putri-putri yang bertemu pangerannya, ikut pembantu nonton telenovela, dan nemenin kakak nonton cerita drama remaja. Endingnya rata-rata sama: si pemeran utama menikah dengan pasangan idamannya.

Kemudian tamat. Kita ngga tau si pemeran utama setelah itu kerja apa, cari rumah di mana, ngontrak per taunnya berapa juta, KPR-nya lancar ato ngga, dan sebagainya. Seolah menikah adalah solusi akhir cerita, dan setelah itu pokoke bahagia. Wis.

Yang saya rasa, menikah itu mempertegas orientasi semasa bujang kita.

Kalo di masa single kita adalah wanita-wanita yang berharap apresiasi orang lain dalam beraktivitas, jangan heran kalo setelah nikah kita jadi ibu-ibu yang sering manyun karena suami “ngga bisa menghargai usaha kita.”

Kalo di masa single kita adalah pria-pria yang mencari pemuas kebutuhan biologis, jangan heran kalo setelah nikah kita jadi bapak-bapak yang gatel liatin cewe-cewe muda karna istrinya “udah ga asik lagi”.

Kalo di masa single kita berangan-angan nikah karna pengen disayang orang, jangan heran kalo setelah nikah kita jadi orang yang sering bete ketika pasangan sibuk, dan banyak menuntut perhatian.

Jadi, kalo kamu adalah salah satu orang yang merasa terintimidasi ketika dateng ke undangan tanpa pasangan, ditanya-tanya keluarga nenek, “Kamu kapan?”, tertekan dengan aplotan foto nikah dan bayi-bayi gembil temen-temen kamu di fesbuk, tenang aja. Menikah itu bukan hal yang otomatis membuat hidup kamu mendadak indah dan menyelesaikan semua masalah. Kalo kamu bertanya-tanya sendiri, gimana rasanya nikah, liatlah gimana rasanya jadi diri kamu sekarang.

Jangan jadi orang yang menunggu dibahagiakan kondisi, karena kondisi single ataupun married ngga akan otomatis membahagiakan kamu. Jangan juga menunggu dipimpin suami atau di-trigger istri untuk jadi manusia yang baik, karena menikah itu hanya merefleksikan seberapa besar usaha kita selama ini ketika memimpin diri.

Sepemahaman saya, Islam mendidik bahwa menikah adalah tools untuk menjalankan hidup sesuai tujuan kita ada di dunia ini. Tools, bukan tujuan akhir. Dan sepengetahuan saya, Kristen pun mengajarkan demikian. Membentuk generasi yang mengadakan perbaikan, melahirkan penerus-penerus yang adil dan takut Tuhan. Wha! Jika benar demikian, betapa besar efek yang ditimbulkan terhadap dunia jika semua keluarga serempak meluruskan tujuan nikahnya sesuai ajaran agamanya.

I know, bayi gembils are bayi gembils. They are tempting in so many ways. Tapi biarkan bayi-bayi gembil itu datang di saat yang tepat, ketika kita siap jadi ibu atau ayah yang punya visi, membimbing mereka seperti apa. Jangan sampe mereka lahir kepada orang tua yang hanya menunggu dibahagiakan oleh mereka, kemudian kecewa dan ngamuk-ngamuk ketika seringkali mereka meminta pengorbanan kita.

Nah sekian, ocehan istri yang masih belajar ini. Semoga barang dikit, ada manfaatnya buat yang belum menikah, baru menikah, maupun sudah lama menikah. Cacaw! x)

Kalo semasa single, kamu adalah orang yang terbiasa berbakti kepada orang tua karena itu perintah Tuhan dan takut dosa, jangan heran kalau nanti kamu lebih sabar ngejalanin tugas sebagai suami/istri sekalipun lagi berantem, karna toh kamu punya tujuan lebih besar dari sekedar menang argumen.

Kalo semasa single, kamu adalah orang yang terbiasa mengakui kesalahan diri dan tidak lembam untuk berubah, jangan heran kalau setelah nikah kamu ngga pundungan ketika dikritik pasangan.

Kalo semasa single, kamu adalah orang yang pandai bersyukur, jangan heran kalo nanti kamu bakal menemukan lebih banyak lagi hal untuk disyukuri dalam kehidupan menikah kamu.

…and that, i think, is the true meaning of living happily ever after.

Regards!
An-overwhelmed-with-gratitude wife

Terjemahan
Pokoke = pokoknya (penekanan, seperti dalam “Pokoke aku iki Michael Jackson. Wis.”)
Pundungan = gampang ngambek (sifat, seperti dalam “Ih meni pundungan kayak supir bajaj.”)

Never scientifically proved that supir bajajs are pundungan, though.

Jadi ceritanya, kemaren saya nyusun naskah do’a untuk orang tua yang akan saya bacain besok, di pengajian menjelang akad nikah saya.

Mau ngga mau, terlintas di pikiran saya,

“Kok saya ngga rutin doain ortu ya?”

Sementara ‘do’a ibu’ adalah frase yang kerap terdengar di mana-mana, bahkan di pantat truk. Seolah-olah sudah jadi kebiasaan umum bahwa orang tua itu pasti sering ngedoain anaknye.

Nah anaknye kapan? Saya belum pernah liat truk yang tulisannya ‘do’a anak’. Membuat saya menyimpulkan bahwa bisa jadi, anak adalah pihak yang lebih sering lupa dan ngga mikirin orang tuanya. Harusnya ngga perlu nunggu momen nikah, orang tua sakit, berpisah jauh dengan orang tua, untuk inget mereka.

Itulah mengapa saya rasa, Allah SWT menjadikan hal ini salah satu ayat dalam arahan-Nya. Berarti suka atau tidak, berbuat baik kepada orang tua adalah undang-undang, bernilai hukum. Dalam kondisi apapun, ngga nunggu kita lagi pengen doang. 

 

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS Al Isra: 23-24)

 

Bahkan ngga ada legalitas “Kalo mereka salah, ya ngga papa kalo elo sekali-sekali marah-marah ke mereka aja.”

Jadi kalo cuma karna masalah siapa yang tadi ga cuci piring, siapa yang ngerusakin pintu garasi, ngga panteslah kalo kita milih untuk demonstratif nyakitin perasaan mereka. Hanya satu batasan yang melegalkan kita ngga taat sama ortu, yaitu ketika mereka meminta kita mengikuti ilah lain selain Allah. Lalu gimana kalo kadang kita kesel, ngerasa bener, dan terintimidasi orang tua? Nah, Allah ngga mungkin kok tidak memperhitungkan itu ketika menurunkan ayat ini. Jadikan itu perang kita. Ngga sia-sia kok kalo kita menahan diri dari argumen dan celetukan ringan, kalo tujuannya adalah untuk menaati ayat. 😉

 

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS Luqman: 15)

 

Dari Abdullah Ibnu Amar al-’Ash Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Keridloan Allah tergantung kepada keridloan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” (Hadits Riwayat Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim.)

 

Chapter 2: The Wars

January 2, 2014

Ibarat film bioskop, ngga bakal ada cerita kalo ngga ada konflik.

Ibarat kuis di program televisi, kalo soalnya udah abis, ya pasti acaranya udah beres dari tadi.

Dalam menghadapi kabar gembira berupa pedoman hidup, tidak serta-merta kita menerimanya dengan gembira. Seringkali justru,

“Iihh bentar dulu. Ngga harus kaya gitu juga kalii.”

Enggan, lembam, dan sempit dada. Wajar saja kalau Sang Pencipta mengingatkan ini pada makhluk-Nya:

Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). (QS Al A’raf: 2-3)

Jadi, sudah terdokumentasi sejak 14 abad yang lalu, bahwa fenomena sempit dada menghadapi kitab-Nya itu ada.

Sang Pencipta tahu keengganan yang ada dalam diri saya, diri kamu, temen kamu, temen saya, mas-mas yang lagi bengong di sebelah kamu, dan di sebelah sana.

Jadi, jika Anda pernah merasa demikian:

“Tapi kondisi gue beda nih, gue ngga bisa ngelaksanain Qur’an bagian ini karna blaablablabla…”

Anda tidak se-spesial itu. Percaya deh.

Semua manusia hidup untuk mengabdi(1), dan diuji(2). Dan di antara sekian triliun manusia yang pernah memasuki panggung ujian di dunia, ada, orang-orang yang terus berusaha. Mengondusifkan diri untuk menjalankan aturan-Nya. Karna toh Yang Maha Melihat dapat menilai, apakah kita memang berusaha, atau mencari alasan untuk mengikuti kemauan diri saja.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS Al Baqarah: 214)

Toh, seseorang tidak akan diuji melebihi kemampuannya.

Atau kita tidak meyakini bahwa Allah berkuasa untuk menepati janjinya?

1 QS Adz Dzaariyaat: 56

2 QS Al ‘Ankabuut: 2

 

You are your own worst enemy.